Posted by: seuratnana | April 16, 2009

Cerita Pagi

Pagi ini terbangun oleh suara Adzan subuh di mesjid depan, berusaha untuk mengangkat tubuh ini dari dekapan sang selimut yang terasa hangat.

Mencoba untuk tetap tersadar dengan wudhu tapi tetap huaaaaaaaaah ngantuk sekali. Setelah absen pagi kepada Sang Khalik sesaat kembali dalam dekapan mimpi dan terbangun karena jam weker terus meraung raung memekakan telinga dan aksi protes kakanda di sampingku.

Akhirnya bisa berdiri dan kembali melaksanakan tugas sebagai seorang istri He he he.
Pagi ini ada yang ingin sarapan dengan bubur ayam langganan pak Asep yang sudah 1 minggu ini tak keliatan di jalan, berharap hari ini menampakan batang hidungnya. Segera bergegas menuju arah jalan untuk membeli sarapan favoritnya dan akhirnya bisa mendapatkan 2 mangkok bubur ayam.

Sarapan tlah disajikan tapi disaat kuangat sendok buburku tampak sesuatu berwarna hitam panjang apakah itu.
Waaaaaaaaaaaaaaaak “Thats look like kotoran tikus”.
Huekkkkkkkkkkkkk gila bener si mang bubur itu. Suamiku mencoba meyakinkanku kalo itu bukan kotoran tikus tapi tetep nggak bisa makan.
Akhirnya kutinggalkan semangkok bubur di wastafel dan mengganti menu sarapanku dengan 2 pot cheese roll dan 1 gelas susu.

Berangkat dengan segera , berharap masih bisa menengok ponakanku dan bertandang ke rumah sahabatku yang baru melahirkan, tapi sayang tidak sempat.

Suamiku sudah tak sabar untuk segera berangkat, karena nampaknya bakal macet total di Halte Andir. Dan memang benar macet banget, dan suamikupun memutarkan motornya memotong jalan melalui gang gang kecil sekedar mencari jalan tercepat. Sedikit kutengok keberadaan pak polisi kita yang berdiri di pembatas jalan antara jalur kiri dan kanan yang terpotong jalur rel kereta api berdiri sambil menunduk dan tangan sibuk sms (????????).
Sudah bukan rahasia lagi kalo jalur halte MATOT setelah kereta lewat bahkan kadang berhenti ditengah jalan, dan hal itu selalu dimanfaatkan pengendara motor untuk mengambil seluruh badan jalan tanpa peduli hal itu akan menyebabkan kemacetan bertambah padat dan disaat kereta lewat maka akan terjadi simpang siur jalur melewati jalur kereta menuju jalan bahkan menyebabkan salah satu jalur tidak bisa bergerak “EGOIS”.

Tapi ada hal yang menyentuh hatiku pagi ini, kulihat seorang kakek tua, renta tangan dan kaki tampak bergetar meniti jalan sesak mencoba melewati kerumunan kuda besi sambil menyeret becaknya.
Dari kejauhan tampak orang tua ringkih tapi tetap berusaha dengan penuh kesabaran untuk bisa keluar dari jalur sesat ini.

Melihatnya terpikirkan betapa beruntungnya aku ini, masih bisa makan enak, kerja pasti, pergi diantar suamiku dengan motornya, gonta ganti tas setiap berganti seragam, penghasilan tiap bulan, bonus dari Oriflame dan banyak lagi yang harus aku syukuri.

Melihatnya teringat perjuangan alm. Ayahku tercinta yang dengan sekuat tenaga berusaha untuk menaikan taraf hidup keluarganya.
Memberikan yang terbaik dan selalu yang terbaik untuk kami.

Bapak
TERIMA KASIH BAPAK.

Pagi yang penuh dengan pembelajaran.
Masihkah pagi pagi yang lainnya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: